Mendirikan Ayu

Senin, 24 Juli 2017

Upacara adat “Mendirikan Ayu” digelar di Ruang Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura pada hari Minggu tanggal  23  Juli  2017  sekitar pukul  09.00 WITA. Upacara ini dipimpin oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Sultan Haji Aji Muhammad Salehuddin II, yang dihadiri oleh Putra Mahkota Haji Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Surya Adiningrat, beserta kerabat kesultanan, Menteri Hukum dan Ham RI Bapak Yasona H Laoly, Duta Besar Republik Seycheiles Nico Barito, Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak, Pangdam 6 Mulawarman, Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari , Wakil Bupati Kutai Kartanegara Edy Damansyah,  Ketua DPRD Kab Kutai Kartanegara, Sekretaris  Daerah Kab Kutai Kartanegara H.Marli, Kepala OPD Kab Kutai Kartanegara, dan para Raja dari berbagai daerah di tanah air serta undangan.


Erau di mulai dengan upacara adat Mendirikan Ayu  Sedangkan “Ayu” adalah sebuah tiang yang berbentuk tombak dan terbuat dari kayu ulin yang biasa disebut dengan nama “Sangkoh Piatu”. “Sangkoh Piatu” merupakan senjata Raja Kutai Pertama Aji Batara Agung Dewa Sakti yang pada batangnya diikatkan Tali Juwita  yang menyimbolkan berbagai lapisan pada masyarakat dan Cinde yang menyimbolkan keluarga Sultan Kutai.. “Mendirikan Ayu” merupakan sebuah simbolisasi dari upaya untuk mencari atau mendirikan kerahayuan (keselamatan atau ketentraman).
Upacara adat “Mendirikan Ayu” dimulai dengan menyiapkan peralatan upacara, yaitu sebidang Jalik yang dihamparkan dan diatasnya  dihiasi Tambak Karang bermotif naga biasa dan naga kurap, serta seluang mas berwarna-warni. Pada Tambak Karang ini terdapat  empat ekor naga yang masing-masing menghadap ke empat sudut luar dan di bagian tengah bermotif taman, sedangkan bagian lainnya terisi dengan seluang mas.
Empat kepala naga yang menghadap ke sudut luar masing – masing bertaringkan “Pisang Ambon”, dengan  mulut terbuka sedang menggigit “Kemala” yang disimbulkan dengan sebutir telur ayam kampong serta terdapat lilin besar, lilin kecil, peduduk, piring sebagai alas baju salinan dan jambak dari daun kelapa muda (Janur).


Di atas Tambak Karang dihamparkan  kasur berwarna kuning dan di atas kasur kuning ini dihamparkan kain kuning motif merah yang disebut Tapak Liman. dan di atas Tapak Liman ini diletakan Gong Raden Galuh yang dibungkus kain kuning berdekatan dengan Batu tija’an. Di atas Gong Raden Galuh inilah berdiri Sangkoh Piatu atau “Tiang Ayu”. Pada Bagian bawah belakang tersedia Perapen (Persepan) yang dilengkapi dengan lampu tembok, suman dan tepung tawar. Sebelah kanan  Tiang ayu terdapat Balai / Tiang persembahan yang berisi satu buah peduduk dan pakaian persalinan sultan dan jabangan mayang nyiur, sedangkan sebelah kiri terdapat jabangan mayang pinang dan guci / molo tertutup berisi Air Kutai Lama.

Dewa Belian menempatkan diri di sisi kiri dan kanan Tambak karang duduk bersila. Lapisan kiri kanan untuk undangan, kerabat dan di bagian belakang sisi kanan keluar di isi oleh Pangkon Dalam dan Pemukul Gamelan, sedangkan sisi kiri keluar di isi juga oleh Pangkon Dalam. Para pejabat / petinggi dan Putra Sultan duduk bersila di bagian depan dan di tengah-tengah terdapat Kursi Sultan.
Prosesi  “Mendirikan Ayu”, perapen dinyalakan dengan aroma wangi dan alunan suara gamelan di dengarkan sambil menunggu sultan di tempat acara. Sultan dengan mengenakan pakaian kebesaran menuju Tiang Ayu, para hadirin semua berdiri member penghormatan dan kehidmatan. Dewa belian melakukan Sawai dan Tiang Ayu didirikan. Setelah itu, hadirin duduk kembali dan sultan duduk di kursi  singgasana yang telah disediakan.
 
Dalam upacara adat Mendirikan Ayu ini, dilakukan juga pengukuhan dan penyerahan gelar kesultanan yaitu kepada Menteri Hukum dan Ham RI bapak Yasona H Loaly dengan gelar Pangeran Anoem  Suranegara.  Acara  ditutup dengan doa dan .menyalakan brong di depan Museum Mulawarman oleh Putra Mahkota Haji Aji Pangeran Adipati Praboe Anoem Surya Adiningrat.

Simpan sebagai :

Berita terkait :