Mengulur Naga

Senin, 30 Juli 2018

Bertempat di depan Keraton Kutai (Museum Mulawarman) Tenggarong Kutai Kartanegara Ing Martadipura, puncaknya dari kegiatan Erau Adat Kutai yang telah berlangsung selama sepekan, baik masyarakat, peserta ke enam negara Erau International Folk Arts Festival         ( EIFAF ), para Pejabat Pemkab Kutai Kartanegara, dan seluruh Kerabat Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura menyaksikan prosesi Ngulur Naga.

Sebelumnya, replika Naga Laki yang ditempatkan di serambi kanan dan Naga Bini di serambi kiri keraton bersemayam selama tujuh hari tujuh malam, hingga akhirnya diturunkan melalui Rangga Titi. Sesaat sebelum Naga diulur, Plt Bupati Kutai Kartanegara Drs. Edi Damansyah, M. Si. menyampaikan sambutan dihadapan Putera Mahkota Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura HAP Adipati Anoem Soerya Adiningrat beserta kerabat.

"Upacara Mengulur Naga telah menjadi icon dari upacara Erau Adat Kutai yang dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat di Kalimantan Timur, tetapi juga secara nasional, terlebih Erau Adat Kutai telah menjadi festival budaya terpopuler di tanah air pada Anugerah Pesona Indonesia 2016 lalu,". Beliau menegaskan, upaya Pemkab Kukar menyelenggarakan Festival Kesenian Rakyat Internasional dalam rangka Erau Adat Kutai, tidak lain untuk mengangkat upacara adat luhur ini agar dikenal oleh masyarakat dunia. "Kita harus membuka banyak jendela untuk memberi ruang masyarakat internasional mengenal Indonesia melalui Erau Adat Kutai, sekaligus memajukan pariwisata daerah dan nasional,".

Usai sambutan, terlebih dahulu dibacakan riwayat naga, selanjutnya setelah ritual Besawai, kedua replika naga tersebut dibawa menuju dermaga depan Museum Mulawarman untuk dinaikkan keatas kapal.

Menteri Pelestarian Nilai-nilai Budaya Adat, Kesultanan Kutai, H Adji Pangeran Haryo Kusumo (APHK) Poeger, mengatakan, kedua replika naga ini selanjutnya akan diulur atau dilarung di sungai Mahakam, Desa Kutai Lama, Kecamatan Anggana. "Sementara saat naga dalam perjalanan ke Kutai Lama, di keraton diadakan upacara Beumban dan Begorok untuk Sultan yang kali ini digantikan Putera Mahkota,".

Setelah upacara Beumban dan Begorok dilaksanakan, tepat pukul 11.00 Wita, akan dilakukan upacara Rangga Titi di pelabuhan yang telah tersedia Balai, Putera Mahkota kemudian duduk di atas Balai menghadap ke Sungai Mahakam yang diapit oleh 7 orang Pangkon laki dan 7 orang Pangkon bini. "Setelah itu Air Tuli yang diambil dari sungai di Kutai Lama tiba dan dipercikan oleh Putera Mahkota kepada para hadirin, maka seluruh masyarakat di sekitar keraton dan lokasi-lokasi yang telah ditentukan melakukan ritual Belimbur atau saling menyiramkan air yang bermakna mensucikan diri,".

Simpan sebagai :

Berita terkait :