Pembukaan Festival Budaya Kutai Adat Lawas Desa Kedang Ipil

Senin, 1 Juli 2019

Pada tahun ini Desa Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun untuk ke tiga kalinya mengadakan Festival Budaya yang diberi nama Kutai Adat Lawas. Acara yang berlangsung selama dua hari sejak Tanggal 29 s/d 30 Juni 2019. Untuk pembukaan Festival Budaya Kutai Adat Lawas berlangsung di Desa Wisata Kedang Ipil, Kecamatan Kota Bangun telah di buka oleh Kepala Dinas Pariwisata, Ibu Dra. Sri Wahyuni, MPP.,  mewakili Bupati Kutai Kartanegara membuka secara resmi Festival Budaya yang saat ini sudah masuk dalam Calendar Event tahunan Kutai Kartanegara.

Dalam kesempatannya beliau menyampaikan bahwa Desa Kedang Ipil adalah salah satu desa tertua yang ada di Kutai Kartanegara, desa ini sudah berumur 110 tahun. Setelah dinobatkan menjadi desa wisata, Kedang Ipil semakin giat menggali dan mengembangkan potensi pariwisatanya. Ibu Dra. Sri Wahyuni, MPP.,Wahyuni berharap agar desa wisata Kedang Ipil dapat bersinergi dengan banyak pihak, agar semakin menyiapkan festival yang bisa dikemas dalam paket paket wisata untuk menarik minat wisatawan. Pada tahun ini 12 pelajar mancanegara yang masuk dalam peserta program Beasiswa Seni dan Budaya ( BSBI ) 2019 dari Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia. Juga turut hadir mengikuti setiap proses adat dan budaya yang berlangsung selam dua hari ini di Desa Kedang Ipil.

Desa Kedang Ipil yang ada di Kecamatan Kota Bangun, merupakan sebuah desa yang menjadi cikal bakal suku Kutai yang kemudian menyebar kemana-mana. Masyarakat desa Kedang Ipil hidup dari bercocok tanam padi dan sayur mayur serta buah-buahan. Kegiatan bercocok tanam padi pun hanya untuk dikonsumsi sendiri dengan memanfaatkan ladang berpindah dilahan berbukit dengan cara ngasak atau nugal atau yang dikenal dengan cara menabur benih secara langsung tanpa penyemaian dengan waktu cocok tanam pada bulan September sampai dengan bulan November dan dipanen sekitar empat sampai lima bulan kemudian. Desa yang sudah berusia ratusan tahun ini memiliki pesona alam serta adat dan budaya yang begitu menarik dengan daerah lainnya, salah satunya adalah upacara adat Nutuk Beham yang telah di laksanakan sebelumnya pada tanggal 26 sampai 28 April 2019 lalu.

Nutuk Beham ialah merupakan acara adat dalam rangka merayakan keberhasilan panen, Nutuk Beham di laksanakan 1 kali dalam setahun, yakni saat panen muda ( prapanen / panen awal ) dalm acara ini warga bergotong royong untuk melaksanakan seluruh rangkaian acara mulai dari proses pembuatan tikar dari pandan hutan yang di pergunakan sebagai alas untuk menumbuk baham, lesung untuk menumbuk baham, memotong padi ketan muda untuk baham, merontok padi ketan muda untuk baham, di rendam minimal 1 malam, diangkat lalu ditiriskan, kemudaian di sangrai, lalu didinginkan kemudian di haluskan dengan cara di tumbuk menggunakan alu dan lesung sebanyak 2 tahap, berikutnya akan di buat menjadi kue ketan ( wajik / bongkal baham ). kue ketan akan di bacakan doa terlebih dahulu sebelum disantap bersama oleh semua warga yang hadir dalam acara tersebut. beberapa acara menarik akan disuguhkan kepada pengunjung dianataranya tepong tawar, tari pupur, tari ngasak padi, tari jepen, behempas, dan proses yang luar biasa yaitu Nutuk Beham yang semuanya dilakukan gotong royong tidak berhenti 24 jam selama 3 hari 3 malam. Keunikan yang ada pada proses nutuk beham adalah penggunakan lesung yang dibuat dari batang pohon cempedak dan diatur sedemikian rupa diatas panggung. Warga secara bergantian dan berkelompok mulai menumbuk atau menutuk beham dan pada saat alu di tumbukkan, lesung mengeluarkan bunyi khas dan berirama sesuai kekuatan yang menumbukkan alu pada lesung.

Simpan sebagai :

Berita terkait :