Peristiwa Merah Putih Sangasanga

Senin, 27 Januari 2020

       Tanggal 27 Januari adalah tanggal paling bersejarah bagi masyarakat Sangasanga. Setiap tahun Sangasanga merayakan Peristiwa Merah Putih untuk mengenang sejarah yang terjadi 73 tahun silam.

       Sanga – sanga adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Kutai Kartanegara. Jika anda senang mempelajari sejarah perjuangan rakyat Indonesia khususnya di Kalimantan Timur, maka Sanga-Sanga adalah tempat yang cocok untuk dikunjungi. Jaraknya sekitar 64 Km dari Kota Tenggarong dan 30 km dari Samarinda, Berbagai peninggalan sejarah bisa dijumpai di kecamatan ini, diantaranya peninggalan Belanda, Jepang, Tugu Merah Putih, Monumen Perjuangan, Penjara Belanda, Taman Makam Pahlawan, dan Sumur Minyak Tua. Mari kita mengenal lebih jauh tentang Sanga-sanga dengan sejarah singkat berikut :

       Sebelum Tahun 1889 Sanga-sanga tidak lah dikenali namun ketika para insinyur ahli pertambangan bangsa Belanda yang melakukan penelitian menemukan cadangan minyak dalam jumlah besar di daerah ini. Dengan bermodalkan konsesi yang di tandatangani oleh Sultan Aji Muhammad Sulaiman 1887 (Concesie Matilde) Ir. J. H Menten dengan perusahaannya yang bernama Nederlandse Industrie En Handil Maatschapij, Belanda mulai melakukan eksplorasi di sumur Matilde. Pada tanggal 20 Februari 1897 Sumur minyak Matilde menyemburkan minyak mentah untuk pertama kalinya. Peristiwa ini merupakan peristiwa penting bagi rakyat Sangasanga karena produksi sumur minyak Matilde dianggap sebagai hari kelahiran daerah Sangasanga. Melimpahnya sumber minyak yang ada di Sanga-sanga menyebabkan Belanda sangat berambisi untuk menguasai Sanga-sanga. Sumur-sumur minyak pun dibangun untuk dieksploitasi dan kemudian kekayaan alam Sanga-Sanga tersebut diproduksi untuk kepentingan Pemerintah Belanda.

       Pada Bulan Juli Tahun 1945 saat Tentara Sekutu melakukan pendaratan di Kalimantan Timur, Sanga – sanga merupakan salah satu sasaran utama mereka. Dengan dikuasainya Kalimantan Timur khususnya Kota-Kota minyak maka sekutu memiliki potensi yang besar dalam melaksanakan Operasinya terhadap Tentara Jepang yang sempat menjajah Indonesia selama 3,5 tahun. Pendaratan Tentara Sekutu di Indonesia selain diboncengi oleh Tentara Belanda (NICA) ternyata juga dengan tujuan untuk menjajah kembali wilayah Indonesia.

       Setelah Tentara Jepang bertekuk lutut kepada Tentara Sekutu, beberapa hari kemudian yaitu pada tanggal 17 Agustus 1945 Bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya di Jakarta. Dengan diproklamirkannya Kemerdekaan Bangsa Indonesia, maka seluruh Bangsa Indonesia dengan semangat menyala-nyala bersiap sedia untuk membela dan menegakkan Kemerdekaannya. Diseluruh pelosok tanah air kita yang tercinta ini terbentuklah badan-badan perjuangan dan kelompok-kelompok Pemuda dari berbagai golongan dan lapisan masyakarat dengan satu tujuan yaitu menegakkan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

       Demikian juga di Kalimantan Timur khususnya di Sangasanga, berdirilah perkumpulan yaitu BPPD (Badan Penolong Perantau Djawa), KNI (Kepanduan Nasional Indonesia), PRI (Pembela Rakyat Indonesia), PERPELIM (Persatuan Pelayaran Indonesia Merdeka) dan lain-lainnya. Perkumpulan-perkumpulan pemuda itu, pada mulanya bergerak dibidang sosial untuk memberikan pertolongan kepada keluarga korban keganasan penjajah. Tetapi pada hakekatnya perkumpulan-perkumpulan pemuda itu adalah untuk membentuk suatu kekuatan di Sangasanga

       Pada waktu Tentara Australia / Sekutu menduduki daerah Kalimantan Timur di Sangasanga perkumpulan pemuda dan rakyat diperbolehkan memakai tanda Merah Putih di dadanya dan mengibarkan Bendera Merah Putih. Selain itu mereka juga memberikan bantuan kepada pemuda-pemuda baik berupa materi maupun moril sehingga terjalin hubungan baik antara para pemuda dan tentara Sekutu/Australia, namun tidak demikian dengan Tentara NICA (Belanda) yang membonceng kepada Tentara Sekutu, yang tidak menghendaki para Pemuda bangkit semangatnya menegakkan kemerdekaan. Setelah tentara Sekutu (Australia) ditarik dari Kalimantan Timur khususnya Sangasanga dan digantikan oleh Tentara NICA (Belanda), maka segala kegiatan para pemuda dan rakyat dilarang samasekali, bahkan banyak para pemuda yang ditangkap dan dipenjarakan oleh NICA (Belanda) di Sangasanga.

       Dengan adanya penangkapan terhadap para pimpinan pemuda tersebut, maka rakyat makin bersemangat untuk menentang mengenyahkan Belanda (NICA). Pemuda-pemuda yang telah dibebaskan diantaranya tokoh-tokoh BPPD Terus menlanjutkan perjuangan dengan mengadakan gerakan-gerakan di bawah tanah dan mengadakan hubungan-hubungan dengan tentara KNIL yang memihak kepada para pejuang untuk memantapkan gerakan-gerakan perjuangan. BPPD di lebur menjadi suatu Organisasi Milker dengan nama BPRI (Barisan Pembela Rakyat Indonesia) Barisan ini bertambah kuat dengan adanya beberapa orang anggota KNIL dan Polisi yang memihak kepada pejuang kemerdekaan secara diam-diam diantaranya ialah Budiono, Ronodiwiryo, Sumiran, Akub, Arak, Sapari, dll. Selain itu pula kedatangan dari ombongan Sdr. Herman Runtu Rambi, berserta kawan- kawannya ke Sangasanga yang ikut serta memperkuat para pejuang dalam gerakannya.

       Para pejuang terus menerus dengan tiada henti-hentinya mengadakan gerakan-gerakan dan perlawanan terhadap Belanda. Dipihak Belanda dengan mata-matanya pun meningkatkan kegiatannya, sehingga pada suatu saat seorang bernama Sucipto tertangkap yang kemudian dibunuh, setelah mengadakan perlawanan dan dokumen-dokumen yang berisi daftar nama-nama para pejuang dapat disita oleh Belanda.

       Tewasnya Sucipto mengobarkan semangat juang warga Sanga Sanga pada 27 Januari 1947. Dibalik acara rakyat yang digelar pada suatu malam yang membuat Tentara Kolonial terlena, para pejuang justru bergerak membagikan berbagai persenjataan untuk mengadakan perlawanan dini harinya.

    Saat itu, peristiwa dramatis terjadi kala para pejuang merobek warna biru bendera kebangsaan Belanda di monumen Kantor KNIL di Sanga Sanga. Peristiwa yang serupa dengan kejadian perobekan bendera di Hotel Yamato Surabaya pada 18 September 1945 lalu. Kondisi ini yang kemudian dilaporkan tentara KNIL ke markas Belanda di Samarinda bahwa Sanga Sanga telah jatuh ke tangan para pejuang.

       Tepat pada hari Senin 28 Januari 1947, meletuslah perjuangan rakyat Sanga Sanga. Selama tiga hari, tentara Belanda yang bersenjata lengkap menyerbu Sanga Sanga. Belanda ingin membumi hanguskan Sanga Sanga dengan mendatangkan tentara dari Balikpapan, Tarakan, dan Banjarmasin. Pejuang Indonesia yang bersenjata seadanya musti menghadapi gempuran hebat dari meriam kapal kapal Belanda yang bersandar di laut dan sungai Kaltim. Walaupun tidak bertahan lama, pendudukan kota Sanga-Sanga oleh para pejuang ini menggoreskan sejarah perjuangan memperhankan NKRI yang telah merdeka dari tangan penjajah. Meskipun para pejuang banyak yang gugur dan tertangkap, tetapi semangat perjuangannya tetap berkobar terus, sehingga mereka yang tidak tertangkap terus menyusun kembali kekuatan dan mengadakan gerakan-gerakan pengacauan-pengacauan terhadap kedudukan pasukan Belanda yang berada di wilayah Kalimantan Timur.

 

Simpan sebagai :

Berita terkait :