Ribuan Masyakat Ikuti Ngulur Naga dan Belimbur Erau 2017

Senin, 31 Juli 2017

Prosesi mengulur Naga dan Belimbur adalah satu ritual yang disakralkan dalam upacara Adat Erau. Pada ritual ini, rombongan utusan Keraton Kutai Kartanegara Ing Martadipura mengarak sepasang replika naga untuk dilepaskan di Kutai Lama, tempat asal muasal legenda sang naga tersebut. Prosesi Mengulur Naga dan Belimbur, menjadi tradisi penutup seluruh rangkaian pelaksanaan Erau Adat Kutai dan International Folk Art Festival (EIFAF) 2017 di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Acara tersebut dipusatkan di halaman Museum Mulawarman, Tenggarong, Minggu (30/7).

Antusiasme warga pun cukup tinggi meramaikan acara tersebut, mereka datang berduyun-duyun ke museum untuk menyaksikan prosesi itu sekaligus ikut belimbur. Bupati Kutai Kartanegara Rita Widyasari dihadapan kerabat kesultanan dan tamu undangan mengatakan, Festival Erau memiliki daya tarik kuat bagi wisatawan domestik maupun mancanegara, dan Erau menjadi gerbang wisata untuk mengenal Indonesia.
Dalam prosesi itu berlangsung aman dan lancar. Ribuan masyarakat dengan sabar menunggu pelaksanaan prosesi, hingga belimbur dimulakan sekitar pukul 11.30 Wita. Saat air tuli tiba dari Kutai Lama, Kecamatan Anggana. Kesadaran warga ini berkat imbauan berkali-kali dilakukan pihak kesultanan melalui pengeras suara. meminta agar warga tidak menyiram, sebelum seluruh prosesi berakhir. Selain itu, imbauan lain dilarang menyiram dengan air kotor, tidak gunakan air dibungkus plastik dan ketika seseorang disiram tak boleh marah.Menurut  Bupati Kukar Rita Widyasari mengatakan "Upacara Mengulur Naga telah menjadi icon dari upacara Erau Adat Kutai yang dikenal luas tidak hanya oleh masyarakat di Kalimantan Timur, tetapi juga secara nasional, terlebih Erau Adat Kutai telah menjadi festival budaya terpopuler di tanah air pada Anugerah Pesona Indonesia 2016 lalu," prosesi mengulur naga, tidak hanya diikuti oleh masyarakat Kukar, tetapi menjadi kehormatan bagi Kukar yang dihadiri oleh beberapa Duta Besar serta peserta Festival Kesenian Rakyat Internasional V dalam rangka Erau Adat Kutai 2017 dari 8 (delapan) negara. "Seni dan budaya adalah bahasa universal yang dapat dimengerti secara bersama-sama oleh siapa saja dan darimana pun asalnya. Pelaksanaan Erau Adat Kutai ini juga tidak lain untuk mengangkat adat luhur dikenal oleh masyarakat dunia. Jendela untuk memberi ruang masyarakat internasional mengenal Indonesia melalui Erau Adat Kutai serta untuk mengenal dan memajukan pariwisata di Kutai Kartanegara," ujar Rita.

Ditambahkan Rita, upacara mengulur naga menjadi momen spesial bagi masyarakat yang selain dapat menyaksikan secara langsung prosesinya, juga karena prosesi belimbur memilki makna pembersihan diri dari pengaruh jahat yang dapat diikuti oleh seluruh masyarakat secara langsung."Acara belimbur ini ditunggu-tunggu masyarakat, semua orang akan membiarkan dirinya basah, menerima siraman air, dan orang yang disiram tidak boleh marah. Gunakan air yang bersih dan menyiram sewajarnya serta jaga keamanan dan ketertiban selama prosesi belimbur, jadilah contoh dan panutan bagi masyarakat dari luar sesuai dengan adabnya," tambah Rita.


Prosesi belimbur tersebut turut dihadiri Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XX H. Adji Mohamad Salehoedin II, Kerabat Kesultanan, Special Envoy Of President Seychelles for ASEAN, Mr. Nico Barito, Minister of Tourism Seychelles, Mr. allain St Ange, Ambassadorof Poland, Mr. Igor Kaczmarczyk, Ambassador of Slovakia, Mr. MichailSlivovic, Deputy Ambassador Bulgaria, Ms. Alexandrina Guigova, and Deputy Ambassador Mozambique, Ms. Clara Sengo, All Directors and EIFAF 2017 Participants  serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Kukar

Simpan sebagai :

Berita terkait :