Sejarah Lahirnya Kota Tenggarong

Senin, 28 September 2020

       238 tahun yang lalu tepatnya 28 September 1782 ibukota Kesultanan Kutai Kartanegara dipindahkan ke Tepian Pandan. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti ‘rumah raja’, lama-kelamaan Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan tetap bertahan hingga kini.

       Hari ulang tahun Kota Tenggarong tidak lepas dari peran Sultan Aji Muhammad Muslihuddin atau Sultan Aji Imbut. Siapakah sosok Sultan Aji Imbut sesungguhnya? Mari kita tengok kembali sepenggal sejarah mengenai kisah beliau. Sultan Aji Imbut adalah Putra pertama dari Sultan Aji Muhammad Idris dan Ibundanya adalah Anak dari Sultan Wajo (Sulawesi Selatan) yang saat ini sudah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional yaitu Sultan La Madukelleng. Dengan demikian Sultan Aji Imbut juga berdarah Bugis, dan ayahnya Sultan Aji Muhammad Idris adalah raja pertama di Kerajaan Kutai Kartanegara yang mengganti sebutan Raja menjadi Sultan.

       Sejak Abad ke-17 di bawah kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Idris Kerajaan Kutai Kartanegara berubah menjadi kerajaan Islam dan Kerajaan menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. La Maddukkelleng adalah putra dari Raja Wajo (Arung Paniki) yg melarikan diri dari Sulawesi Selatan karena tidak ingin diadili di Bone, menyeberangi Selat Makassar dan tiba di Paser kemudian melanjutkan pelayaran memasuki sungai Mahakam. Saat itu La Madukkelleng meminta suaka kepada Raja Kutai dan diberi lokasi yg sekarang tepatnya berada di Samarinda Seberang.

       Di lokasi inilah Warga Bugis melangsungkan hidupnya dengan bercocok tanam dan menjalankan ajaran Islam sehari-hari. Raja Kutai yg berkuasa ( Sultan Aji Muhammad Idris ) kemudian menikahi Putri dari La Maddukkelleng dan putri beliau tinggal di Istana sebagai permaisuri Raja Kutai.

       Sewaktu perang bergejolak di Sulawesi Selatan antara Raja-raja Bugis melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC Belanda), Sultan Idris membantu mertuanya (La Madukelleng) di Sulawesi Selatan dan gugur dalam pertempuran (Tahun 1739). jadi Makam Raja Kutai (Sultan Aji Muhammad Idris) berada di Wajo (Paniki) saat ini. Sepeninggal Sultan Idris, terjadinya perebutan takhta kerajaan oleh Aji Kado. Aji Kado kemudian meresmikan namanya sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan menggunakan gelar Sultan Aji Muhammad Aliyeddin.

       Pada saat Sultan Aji Muhammad Idris wafat, Putra Mahkota (Aji Imbut) masih belia, karena khawatir Putra Mahkota sebagai pewaris kerajaan dibunuh oleh penguasa kerajaan saat itu maka permaisuri mengirim ketiga putranya ke Wajo dan di besarkan oleh kakeknya (Arung Paniki). setelah dewasa Aji Imbut kembali ke Tanah asalnya Kutai. Dalam pelayararannya singgah di Samarinda seberang menghimpun kekuatan kemudian untuk merebut kembali kekuasaan kerajaan Kutai yg dulu dipegang oleh Ayahandanya. Aji Imbut sebagai putra mahkota yang sah dari Kesultanan Kukar kembali ke tanah Kutai. Oleh kalangan Bugis dan kerabat istana yang setia pada mendiang Sultan Idris, Aji Imbut dinobatkan sebagai Sultan Kutai Kartanegara dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin. Penobatan Sultan Aji Muhammad Muslihuddin ini dilaksanakan di Mangkujenang (Samarinda seberang). Sejak itu, dimulailah perlawanan terhadap Aji Kado. Perlawanan berlangsung dengan siasat embargo yang ketat oleh Mangkujenang terhadap Pemarangan. Armada bajak laut Sulu terlibat dalam perlawanan ini dengan melakukan penyerangan dan pembajakan terhadap Pemarangan. Tahun 1778, Aji Kado meminta bantuan VOC. Namun, VOC tak memenuhi permintaan bantuan Aji Kado tersebut.

       Pada 1780, Sultan Aji Imbut berhasil merebut kembali ibu kota Pemarangan dan secara resmi dinobatkan sebagai Sultan dengan gelar Sultan Aji Muhammad Muslihuddin di Istana Kesultanan Kukar. Aji Kado dihukum mati dan dimakamkan di Jembayan.

       Aji Imbut memindahkan ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara ke Tepian Pandan pada tanggal 28 September 1782. Perpindahan ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh kenangan pahit masa pemerintahan Aji Kado dan Pemarangan yang dianggap telah kehilangan tuahnya. Dalam proses perjalanan melewati Sungai Mahakam mencari ibu kota pemerintahan yang tepat, Aji Imbut sempat bermalam di daerah Gersik (di kawasan Desa Perjiwa saat ini), sebelum memilih ibu kota Kesultanan Kutai Kartanegara di Tepian Pandan. Nama Tepian Pandan kemudian diubah menjadi Tangga Arung yang berarti Rumah Raja. Lama kelamaan, Tangga Arung lebih populer dengan sebutan Tenggarong dan bertahan hingga kini. Pada 1838 Aji Imbut mangkat dan digantikan oleh Sultan Aji Muhammad Salehuddin. Aji Imbut dimakamkan di Kompleks Pemakaman Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, sebelah Museum Mulawarman Tenggarong.

Simpan sebagai :

Berita terkait :