Sejarah Pulau Kumala

Rabu, 8 Juli 2020

       Pulau Kumala merupakan salah satu destinasi wisata yang terletak di Tenggarong, Ibukota Kabupaten Kutai Kartanegara. Sebenarnya Pulau Kumala merupakan daerah delta sungai mahakam yang berada di Tenggarong. Pada awalnya, pulau seluas 85 hektar ini merupakan sedimentasi lumpur yang membentuk tanah. Pulau ini unik karena tampak seperti perahu di tengah sungai. Sebelum berubah menjadi sebuah tempat rekreasi modern, Kumala adalah sebuah tempat untuk ratusan bekantan (Nasalis Larvatus) dan berbagai jenis reptil liar Kalimantan. Pada tahun 2000, Pulau Kumala mulai dibangun dan dijadikan destinasi wisata. Pada tahun 2002, bertepatan dengan Festival Erau, Pulau Kumala dibuka pada zaman bupati Syaukani HR

       Namun pada tahun 2000 atas gagasan Bapak Syaukani HR.bupati pada waktu itu  ,Pulau Kumala di rubah menjadi salah satu distinasi pariwisata unggulan di Kabupaten Kutai Kartanegara dengan mengusung konsep seperti di Taman Mini Indonesia Indonesia Indah ( TMII ) dengan menggunakan APBD . 

       Pada Tahun 2002 Pemkab Kukar sukses menyulap Pulau Kumala menjadi salah distinasi pariwisata modren dengan menggabungkan unsur kebudayaan yang ada di Kutai Kartanegara lengkap dengan aneka ragam permainan dan fasilitas di antaranya :sky tower untuk menikmati keindahan alam dari udara, jalur rel kereta api mini, kereta gantung yang melintasi sungai mahakam,kereta gantung yang melintasi sungai mahakam, dan berbagai wahana lainnya. Tak ketinggalan di area wisata ini juga dibangun Resort lengkap dengan fasilitas kolam renang dan cottage-cottage untuk beristirahat. Bangunan cottage masih kental dengan bentuk tradisional. Berupa lamin mancong (rumah panjang, rumah adat Suku Dayak), lamin beyog, lamin wahau, dan lainnya.

        Pengelolaan Pulau Kumala di limpahkan kepada pihak swasta dengan cara lelang,dan yang memenangkan pada waktu  PT El John Tirta Mas Wisata selaku investor menandatangani kontrak kerja sama dengan Pemkab Kukar pada 3 Februari 2010. Kontrak selama 18 tahun.  Namun, El John dianggap tidak bekerja sesuai target. Investor ini juga tidak membayar kewajibannya terhadap daerah.El John disebut menunggak pembayaran total Rp1 Miliar selama  dua tahun, yakni 2011 dan 2012. El John juga tidak membayarkan bagi keuntungan atau profit sharing pada 2012 sebesar Rp15 Juta (sumber :http://www.korankaltim.com/) nasib pulau Kumala kian terlupakan ketika pada tanggal 26 September terjadi musibah nasinoal uaitu runtuhnya jembatan Kutai  kartanegara (mahakam II)

       Roda waktu terus berputar meninggalkan jejak pelajaran tentang sebuah kisah perjalanan Pulau Kumala yang belum menemukan tuan untuk mengelola,untuk sementara penjagaan aset di limpahkan kepada Dinas dan Kebudayaan pariwisata / Aset Daerah dan untuk mejaga keamanan melibatkan waker dan Satpol PP Kukar 

    Leluhur warga Kutai mempercayai bahwa Sang Lembuswana merupakan tunggangan Mulawarman, yang bertakhta sebagai raja Kutai sekitar 1.500 tahun silam. Tampaknya mirip dengan sebagian besar penganut Shiwa di Nusantara, bahwa lembu merupakan kendaraan Dewa Shiwa: Raja Majapahit pun dilambangkan sebagai Shiwa pula. Satwa mitologi ini telah menjadi simbol keperkasaan dan kedaulatan seorang penguasa. Unsur belalainya menandakan bahwa satwa ini juga perlambang sosok Ganesha, Dewa Kecerdasan.

       Kepala Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang Kota (DCKTRK) Kukar Basri Hasan melalui Kabid Bangunan Makruf mengatakan jembatan ini sepanjang 230 meter, oprit atau jalan pendekat pada kedua sisi sepanjang 13 meter dan lebar 4 meter. Sebagian besar strukturnya terbuat dari baja.“Pondasi jembatan menggunakan pipa baja dengan ukuran 60 Cm, begitu pun dengan fender sebagai  abutmen pada bentang utama, juga dengan pipa baja dengan ukuran 40 Cm atau 0,4 meter,” kata Makruf.Gelegar jembatan menggunakan baja profil 1. “Tiang sandaran pada jembatan juga menggunakan baja. Namun ada sebagian menggunakan bahan beton, yakni oprit tadi di kedua sisi jembatan,” tuturnya.Dilanjutkan Makruf, pemancangan ini dilakukan PT Hutama Karya (HK) dengan nilai kontrak sebesar Rp 29.809.863.000,-. Pada tahun 2014 ini, anggaran yang disediakan hanya untuk pembuatan pondasi saja. Pengerjaannya dalam jangka waktu satu bulan, terhitung mulai pada tanggal 11 September hingga 15 Desember 2014 mendatang.“Pada tahun anggaran 2015 akan datang akan dianggarkan kembali, yakni pemasangan bentang tengah jembatan pada anggaran pembangunan jembatan tahap selanjutnya ,” ungkapnya.

       Untuk diketahui, Jembatan Pulau Kumala ini merupakan jembatan khusus untuk pejalan kaki yang menghubungkan dari sisi Kota Tenggarong menuju delta di tengah sungai Mahakam itu.Selama ini, setiap pengunjung yang hendak berlibur harus menggunakan jasa perahu penyeberangan yang kerap disebut perahu ces. Jembatan ini diban-gun untuk lebih meningkatkan kunjun-gan wisatawan ke Pulau Kumala.

Simpan sebagai :

Berita terkait :