Sekilas Tentang Kota Bangun

Kamis, 16 Juli 2020

       Kota Bangun merupakan salah satu permukiman tertua di Kabupaten Kutai Kertanegara, selain itu juga ada daerah Kutai (Kutai Lama), nama kedua daerah ini sudah ada disebut di dalam Hikayat Banjar yang bagian terakhirnya ditulis pada tahun 1663. Kota Bangun merupakan asal daerah Raden Aria Dikara ayah Gusti Barap, isteri Panembahan di Darat (Mangkubumi dari Sulta Inayatullah)

       Kecamatan Kota Bangun terletak antara 116º27' BT – 116º46' BT dan 0º07' LS – 0º36' LS dengan luas wilayah mencapai 1.143,74 km2. Secara administratif, kecamatan ini terbagi dalam 20 Desa dengan jumlah penduduk mencapai 25.871 jiwa (2005). Sebagian wilayah kecamatan Kota Bangun dibelah oleh Sungai Mahakam dan Sungai Belayan serta terletak di tepi Danau Semayang dan Danau Melintang. Pola penyebaran penduduknya pun terkonsentrasi di sepanjang sungai maupun danau tersebut. 

       Pada hikayat Banjar, cerita tentang Kesultanan Banjarmasin, disebutkan bahwa ada permukiman tertua yang terletak di antara Kabupaten Kutai Kertanegara dan Kerajan Kutai Lama bernama Kota Bangun. Hikayat Banjar ini pernah dibukukan di Malaysia pada 1990 oleh Johannes Jacobus. Hal yang menarik dari Kota Bangun adalah wisata airnya yang tersebar di beberapa wilayah pemukiman penduduk. Danau Melintang, salah satunya. Tempat wisata yang begitu teduh ini menyimpan keindahan yang tiada duanya ketika matahari baru akan terbit dan menjelang tenggelam.

       Kicauan burung dan tenangnya aliran air sungai menambah asyiknya menikmati pesona danau yang memiliki teman akrab bernama Danau Semayang ini. Ketika air Sungai Mahakam surut, kedua danau tersebut akan menyatu. Pada malam hari ketika air Sungai Mahakam sedang naik, kedua danau itu memisahkan diri dengan posisi Danau Melintang terletak di sebelah kanan. Sungguh menarik, bukan ? Ini bukan mitos, Anda bisa membuktikannya sendiri dengan datang ke Kota Bangun.

       Seolah kota Bangun memiliki peradabannya sendiri, Danau Semayang dan Danau Melintang hadir sebagai mata pencaharian penduduk yang bermukim di sepanjang jalur sungai dan danaunya. Anda juga dapat menemui Desa Melintang, desa terapung khas Kalimantan di atas Danau Melintang yang lebih mirip dengan lautan luas. Banyak perahu yang dirakit dengan tiang-tiang penyangga agar desa tersebut tetap kokoh meskipun angin yang bertiup sedang tidak bersahabat.

       Kota Bangun menyimpan keindahan yang tak kalah menarik dari danaunya yaitu sudut Desa Melintang yang terletak di Kecamatan Muara Wis. Di tempat ini, para penduduknya sebagian besar berprofesi sebagai nelayan. Mereka mengumpulkan ikan yang baru saja mereka tangkap dari sungai, danau, dan rawa di sekitarnya. Ikan-ikan itu kemudian diolah agar awet dan memiliki nilai jual dengan cara diasap atau diasinkan lalu dijual dengan nama /Jukut Salai/ yang artinya ikan asap. Ikan ini dijual dengan harga kurang dari lima puluh ribu rupiah per kilogramnya.

Simpan sebagai :

Berita terkait :