Tampilan Kesenian Dari India Di Pulau Kumala

Kamis, 26 Juli 2018

Dalam kegiatan Erau, ada kegiatan yang berpusat dan belangsung di Pulau kumala Tenggarong yang juga menjadi salah satu obyek wisata kebanggaan warga Kutai Kartanegara. Berlangsung kegiatan street performance dari tanggal 23 – 28 Juli 2018, festival keseniaan rakyat internasional VI dalam rangka Erau Adat Kutai 2018. Pada setiap harinya aka di tampiklkan kesenian baik dari tuan rumah Indonesia maupun dari delegasi para peserta CIOFF. Tampil pada hari ini perwakilan dari Negara Indonesia dan India.


Di awali dari tuan rumah Indonesia, yang menampilkan sanggar seni “Se Kimet “ dari Kecamatan Tabang Kutai Kartanegara, dengan judul tarian Kanjet Uyai Ume atau Tarian Membuka Ladang, tampilan tarian ini menceritakan tarian bersama yang dilakukan oleh masyarakat dayak Kecamatan Tabang pada saat mau membuat ladang atau mulai membuka lahan perladang yaitu di mulai dari pergi melihat lokasi tanah atau rimba yang mau di kerjakan setelah menemukan lokasi yang cocok dan subur lalu nenek moyang kami membuat tip atau tanda sebagai bukti bawa tanah tersebut mau di kerjakan. Setelah itu merekapun membuat suatu acara doa syukur atau doa untuk kesuburan tanah yang mau di kerjakan menurut keyakinan mereka pada saat itu. Lemerek yaitu menebas membersihkan rumput dan akar – akar di lahan, ngade dan menebeng kayu kecil dan kayu besar, metuq artinya mencincang memotong dahan ranting, menutung membakar lahan, mekup membersihkan ranting yang masih tersisa, senuyun nuga artinya bergotong royong menanm benih padi, mafau artinya merumput membersihkan rumput yang tumbuh di antara padi, masau artinya panen padi yang sudah menguning, miyek artinya membersihkan biji padi dari tangkainya. Pergerakan dalam bentuk tarian ini biasanya di tampilkan pada saat upacara Adat pesta panen raya setiap tahunnya.

Masih dari sanggar seni “Se Kimet “  tampilan kedua menampilkan tarian Peragaan kehidupan jaman dulu, bahwa masyrakat dayak pada jaman dahulu dalam kehidupan sehari – hari melakukan aktifitas mereka dari pagi jam 4 subuh masyarakat dayak sudah bangun pagi setelah merapikan tempat tidur langsung menuju ke sungai sambil membawa tempat untuk ambil air yang mau di masak, tempatnya terbuat dari bambu. Sementara di sungai sambil mencuci pakaian, sabun yang digunakan dari daun, cara memasak menggunakan kayu kering.


Di lanjutkan dengan penampilan India yang membawakan tari Ghumro yang diketahui bahwa tarian ini sangat terkenal dari Shamlaji di Gujarat. Shamlaji terkenal dengan pameran dan Kuilnya. Bahwa Kui Shamlaji berdiri di tepi sungai Meshwo, dalam pemujaan Dewa Wisnu, di peraya bahwa kuil ini telah ada setidaknya selam 500 tahun. Komunitas Bhil di Gujarat memiliki kepercayaan yang luar biasa dalam kekuatan Shamlaji yang dengan senang hati mereka sebut sebagai Kaliyo Dev ( Dark Divinity ). Pada perayaan Shamlaji laki – laki dan perempuan mencari pasangan hidup mereka, dan setelah menemukan pasangan hidup, mereka merayakan momen ini dengan sukacita dan kesenangan dan mereka memainkan tarian yang di sebut Ghumro Dance. suasana pun semakin meriah dengan penari India mengajak para penonton untuk menari bersamanya. 

Simpan sebagai :

Berita terkait :