Tari Ves Dance Menggambarkan Kemegahan Sri Lanka kuno

Rabu, 25 September 2019

    Masih dalam rangakai gelaran TIFAF yang berlangsung di lapangan basket timbau Tenggarong, mala ini Delegasi dari Srilanka, hadir yang akan memberikan tampilan terbaiknya, da nada pula pastinya yang akan tampil dari Indonesia dengan tarian khas pedalamannya.

    Diawali dengan Negara Srilanka, Nama group Ranranga dance academy, director Mr. Basnayake. Ranrange dance adalah sebuah institusi yang dikelola sangat baik di Sri lanka sejak tahun 1994, group ini telah mencetak siswa siswinya yang piawai dalam menguasai tari tradisional maupun kontemporer, group ini juga sering mengirimkan siswanya lebih dari 150 festival internasional yang ada di dalam maupun luar negeri. Khususnya festival yang di selenggarakan oleh international folk and cultural organizations.

    Tarian yang ditampilkan : Ves Dance menggambarkan kemegahan Sri Lanka kuno, penari pria yang mengenakan pakaian cerah dan berwarna – warni untuk menarik perhatian diatas panggung. Penari laki – laki ini melakukan gerakan tarian dengan bersemangat dan cepat, mengikuti gendang tradisional. Tarian ke dua dengan nama tari Chamara Dance yang artinya tarian ini dengan menggunakan Chamara, instrument yang digunakan di istana pada zaman kuno. Dilanjutkan dengan tarian ketiga dengan judul tari Raban Dance yitu tarian daerah yang satu ini terdiri dari penari laki – laki dan perempuan pada dasarnya tarian ini terdiri dari dua instrument yaitu Ath Raban dan Banku Raban, dan tamipannya akan menggunakan Ath Raban.

    Berlanjut dengan Delegasi Indonesia dengan di wakili dari Sanggar Tari Bangen Tawai Desa Budaya Sungai Bawang, menggunakan alat musik seperti gong, sampeq, jatung utang, di bawah binaan Norti dan Heppy Apriliati. Sangga seni membawakan tarian yang menceritakan tentang kehidupan di sebuah kampong mereka hidup dengan sangat harmonis dan penuh kebersamaan. Pada suari datanglah beberapa wanita kesebuah sungai, mereka pun melakukan berbagai kegiatan selang waktu datanglah dua orang pria yang sangat gagah perkasa satu diantara pria ini memiliki niat yang jahat, tanpa piker panjang pria ini pun menculik salah satu wanita yang sedang berada di sungai, dengan segeranya teman – temannya pun menceritakan kejadiannya kepada pemuda – pemuda kampong, panas hati yang membara sehingga terjadilah peperangan yang sengit.

     Kemudian datanglah Udoq Kiba ini melakukan ritual untuk memanggil dewa Bungan malan yang merupakan dewa pelindung suku dayak kenyah lepok jalan. Dan pada akhirnya kampong inipun menjadi aman damai tentram, mereka merayakannya dengan tari – tarian.

Simpan sebagai :

Berita terkait :