Upacara Peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga Ke 71.

Sabtu, 27 Januari 2018


       Telah berlangsung Upacara Peringatan Peristiwa Merah Putih Sangasanga ke 71 secara tertib dan khidmat dilapangan Lapangan Sepak Bola Gelora Pantai PT Pertamina Kecamatan Sangasanga, pada hari Sabtu tanggal 27 Januari 2018. Plt Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah menjadi inspektur upacara pada peringatan tersebut, Upacara parade merah putih ini dihadiri Forum Koordinasi Pimpinan Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Ketua DPRD dan Anggota FKPD Kukar, para Veteran, Pimpinan Ormas, Tokoh Masyarakat, Pemuka Agama serta tamu undangan lainnya.

      Plt Bupati Kukar Edi Damansyah membacakan sambutan Gubernur Kaltim Awang Faroek Ishak, bahwa tujuh puluh satu tahun silam tepatnya 27 Januari 1947, para pejuang Sangasanga dengan gagah berani bertempur melawan aksi pendudukan Belanda. Peristiwa heroik itu telah menorehkan tinta emas yang patut kita kenang sepanjang masa dan sebagai teladan kejuangan bagi generasi sekarang dan generasi mendatang untuk menegakkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang merdeka, bersatu, berdaulat adil dan makmur.

     Peristiwa Merah Putih Sangasanga merupakan perjuangan berskala Nasional yang sepantasnya menjadi catatan sejarah penting di antara catatan sejarah Nasional lainnya. Sebagai bangsa yang besar, kita seharusnya pandai menghargai jasa-jasa para pahlawan. Oleh karena itu lanjutnya, jejak perjuangan mereka harus kita kenang, harus kita hargai dan patriotisme kepahlawanan mereka harus pula kita tularkan kepada semua generasi bangsa. Jiwa dan semangat patriotisme, berbangsa dan bernegara di kalangan generasi muda, di era globalisasi ini tidak boleh terkikis dan luntur. 

     Dalam sambutannya Gubernur Kalimantan Timur mengatakan agar pemahaman akan sejarah dan penghargaan terhadap para pahlawan dan pejuang kemerdekaan, dari sejak dini harus ditanamkan pada anak-anak, agar tidak lupa pada jejak langkah para pejuang pendahulu yang berkorban dan berjuang luar biasa bertaruh harta benda dan nyawa yang tak ternilai harganya. Peristiwa Merah Putih Sangasanga, menggambarkan betapa kokohnya persatuan, senasib sepenanggungan di antara warga kota Sangasanga pada masa itu. Mereka berkorban, berjuang tanpa melihat dan membeda-bedakan asal usul etnis, agama, latar belakang kelompok, golongan dan identitas lainnya, tetapi satu tujuan merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Beliau juga mengajak melalui peringatan Peristiwa Perjuangan Merah Putih tersebut untuk laksanakan Gerakan Nasional Revolusi Mental di segala bidang. Apakah sebagai Aparatur Sipil Negara, TNI atau Polri, Pengusaha, Pimpinan Partai Politik, Pimpinan Organisasi Sosial, Tokoh Masyarakat, Tokoh Agama, Tokoh Pemuda dan Wanita, dalam kapasitas apapun.

     Usai upacara, acara pun di rangkai dengan Aksi teatrikal Merah Putih Sangasanga Membara, Ini bagian dari visualisasi sejarah yang terjadi Perjuangan perebutan kota Minyak di Sangasanga. Sejarah mencatat pertempuran di Kota Sangasanga pada 27 Januari 1947 itu sebagai satu diantara pertempuran paling hebat di Asia. Teater Merah Putih Suyono menyampaikan, bahwa awak pemain, yang melibatkan siswa dan siswi SMP, SMA / SMK, diikuti hingga mencapai 150 orang.  Tahun ini dipilih tema besar pejuang Sangasanga Budiyono . “Tema ini memang secara khusus menjadi pilihan di pementasan Sangasanga Membara, Sosok Budiyono sangat luar biasa dan tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa perebutan kota Sangasanga atau yang kita kenal dengan peristiwa Merah Putih 27 Januari . Tentara KNIL tetapi kontribusi Budiyon pada masa itu sangat besar, Ia sebagai pejuang sekaligus tokoh diplomasi yang mewakili kepentingan rakyat Sangasanga.

Simpan sebagai :

Berita terkait :