10 Fakta Tentang Kerajaan Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara

Kamis, 23 Juli 2020

       Tahukah Anda? Kerajaan Kutai Kartanegara dan Kutai Martadipura dahulu adalah dua kerajaan yang berbeda? Namun saat ini hanya terdapat 1 kerajaan/kesultanan yang diakui di Kabupaten Kutai Kartanegara. Mengapa? Karena Kerajaan Kutai  Martadipura telah lama ditaklukkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara pada Abad ke 16. Sehingga sejak saat itu kedua kerajaan ini  telah dilebur menjadi satu, yaitu menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura hingga saat ini. 

         Berikut 10 Fakta Tentang Kerajaan Kutai Martadipura dan Kutai Kartanegara, diperoleh dari berbagai sumber.

1. Kerajaan Kutai Martadipura berdiri sekitar abad 4 Masehi dengan Raja Pertamanya bernama Kudungga, kerajaan ini diyakini sebagai kerajaan Hindu tertua di nusantara. Sedangkan Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pada Abad 13 Masehi dengan Raja Pertamanya Aji Batara Agung Dewa Sakti.

2. Pusat Kerajaan Kutai Martadipura berada di Kecamatan Muara Kaman sedangkan  Kerajaan Kutai Kartanegara berdiri pertama kali di Jahitan Layar kemudian berpindah ke Tepian Batu, Kutai Lama Anggana.

3. Raja Mulawarman merupakan raja terbesar dan paling terkenal dari Kerajaan Kutai Martadipura. Pada masa pemerintahannya, Raja Mulawarman yang membawa Kerajaan Kutai mencapai masa kejayaannya. Pada masa ini juga, rakyatnya hidup tentram dan sejahtera sehingga Raja Mulawarman mengadakan upacara kurban emas yang sangat melimpah. Nama Mulawarman juga diabadikan sebagai nama Museum yang merupakan bekas Keraton Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.

4. Kerajaan Kutai Kartanegara pertama berlokasi di Kutai Lama (1300-1732), hilir Mahakam. Lalu pindah ke Pemarangan (1732-1782), dan terakhir di Tepian Pandan sejak 1782. Nama Tepian Pandan diganti menjadi Tangga Arung—bermakna “Rumah Sang Raja”—yang dilafalkan warga setempat sebagai Tenggarong. Kepindahan Ibu Kota Kerajaan Kutai dari Pemarangan ke Tenggarong dilakukan pada masa Aji Imbut yang bergelar Sultan Muhammad Muslihuddin. Takhta di Tenggarong dimulai sejak 28 September 1782, kini diperingati sebagai hari jadi kota Tenggarong.

5. Pertempuran sengit berlangsung antara kedua kerajaan pada Abad ke 16 saat Kerajaan Kutai Martadipura dipimpin oleh rajanya Dharma Setia dan Kerajaan Kutai Kartanegara dengan rajanya Aji Pangeran Sinum Panji Mendapa. Saat itu, Kerajaan Kutai Martadipura ditaklukkan oleh Kerajaan Kutai Kartanegara, dan Raja Dharma Setia tewas ditangan Aji  Pangeran Sinum Panji Mendapa. Raja kemudian mengumumkan bahwa sejak saat itu nama kerajaan berubah menjadi Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura dan wilayah kekuasaannya pun semakin luas.

6. Pada saat berdiri,kedua kerajaan ini sama-sama merupakan kerajaan Hindu. Kerajaan Kutai Kartanegara Ing Martadipura berubah menjadi Kerajaan Islam sejak Abad ke-17 di masa pemerintahan Raja Aji  Mahkota. Kemudian sebutan kerajaan menjadi Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura.  Sultan Aji Muhammad Idris (1732-1739) merupakan raja Kutai Kartanegara pertama yang menggunakan gelar Sultan.

7. Pada masa kejayaannya hingga tahun 1959, Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura memiliki wilayah kekuasaan yang sangat luas. Ada beberapa wilayah otonom, yakni Kabupaten Kutai Kartanegara, Kabupaten Kutai Barat, Kabupaten Kutai Timur, Kota Balikpapan, Kota Bontang, Kota Samarinda, Kecamatan Penajam.

8. Kerajaan ini sempat mati suri beberapa dekade dan kemudian muncul kembali pada Tahun 2001, Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura kembali eksis setelah dihidupkan lagi oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara setelah mendapat izin dari Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Itu sebagai upaya untuk melestarikan budaya dan adat Kutai Kedaton. Dampak utamanya tak lepas dari potensi pariwisata yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara

9. Benda-benda peninggalan Kerajaan Kutai Martadipura yang berasal dari Abad 4 Masehi ditemukan di Muara Kaman pada tahun 1890. Benda-benda itu diantaranya berupa Ketopong (mahkota raja) yang terbuat dari emas, kalung uncal, kalung siwa,  pedang sultan, kura-kura emas dan juga 7 buah prasasti yupa. Kesemua benda itu saat ini berada di Museum Nasional Jakarta, namun benda tiruan/replikanya bisa kita lihat di Museum Mulawarman Tenggarong.

10. Saat ini Sultan Kutai Kartanegara, Ing Martadipura adalah Aji Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat yang dinobatkan pada tanggal 15 Desember 2018). Dalam penobatan pewaris tahta Kesultanan Kutai ke 21 ini, Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara mendatangkan benda-benda pusaka asli kerajaan yaitu dua pusaka milik kesultanan yang di simpan di Museum Nasional yaitu ketopong atau mahkota dari emas seberat 1,2 kg dan pedang 1,7 kg. Putra Mahkota Aji Pangeran Pangeran Praboe Anoem Soerya Adiningrat menjadi Sultan setelah menggantikan ayahandanya, Sultan Aji Muhammad Salehuddin II yang telah wafat dalam usia 93 tahun, pada 5 Agustus 2018 lalu.

Simpan sebagai :

Berita terkait :